Sayang Itu Tidak Mengekang

Pernah ada sebuah cerita..
Dahulukala disebuah desa kecil dikaki sebuah gunung hiduplah keluarga yang sederhana…jreeeenng…hemmm kok kayak sandiwara radio yang selalu saya dengarkan sepulang sekolah,waktu masih SD, sandirwara dengan judul “saur sepuh”…tentang mantili yang ndak rela brama kumbara dirayu lasmini…bla bla bla…maklum saya SD tahun 1990..belum ada TV..ada cuma 1 dirumah pak lurah…itupun hitam putih,masih pake Aki hidupinya…udah begitu kalo nonton 1 TV yang mlototin orang sekampung..pas giliran Aki nya mau habis biasanya ditengah2 layar keluar garis putih,kalau sudah begitu biasanya pak RT yang panggul Aki ketempat penyetruman Aki…hehehe…pengorbanan demi sebuah TV hitam putih…dedikasi tingkat tinggi…lho lho tapi kok malah bahas masalalu saya yang memalukan…meski demikian saya bangga dengan masalalu saya…setidaknya dari masalalu saya banyak belajar kehidupan…
STOP kembali kelaptop…(Pake gaya mbah Tukul Arwana)..
Sayang itu tidak mengekang…begini critanya (masih kayak sandiwara radio gak yaa)…hehehe begini…ada sebuah cerita…saya sendiri tidak tau awal cerita itu dari mana.yang jelas sampai dimata saya…(Kok mata) iya karena saya tahu cerita tersebut dari membaca…
Ada seorang anak kecil..dengan keluguanya..saat ulang tahun yang ketiga dia ditawarkan ayahnya untuk bebas memilih hadiah…dengan ketus anak tersebut memilih dibelikan seekor burung emprit kecil…saya yakin itu bukan obsesi anak itu terhadap game “angry bird” karena cerita ini ada sebelum game “angry bird” dirilis….singkat kata dengan girang anak kecil tersebut menerima hadiah ultahnya…kemana pun pergi..burung empritnya selalu dibawa,apa yang dia makan,selalu berbagi dengan burung emrpit kesayanganya…bahkan tanpa rasa jijik anak itu membersihkan kotoran burung yang ngasal jatuh ditelapak tangannya…entah kata apa lagi untuk mencontohkan besarnya rasa sayang anak itu terhadap burung empritnya…digengam erat karena takut burung itu lepas atau bahkan direbut teman2nya yang entah iri karena lucunya burung itu atau mungkin tidak terima dengan sayangnya anak itu terhadap burungnya…sampai suatu ketika saking takutnya kehilangan burung kesayangannya dia gengam erat – erat…anak itu tidak sadar bahwa dengan gengamannya itu burung yang paling dia sayangi mati…(Upssstt santai aja bacanya,tidak usah pakai nangis…ini cerita lucu kok)..
Betapa menyesalnya anak tersebut,karena ketakutan kehilangan sesuatu yang paling dia sayangi hingga membuat burungnya mati…dan sama saja akhirnya anak itu tetep kehilangan sesuatu yang selalu dia jaga,sesuatu yang paling dia sayangi…anak itu menangis…tidak hanya karena kehilangan sesuatu yang paling dia sayangi..tapi lebih karena kesalahan dia menyanangi burung itu hingga mati.
Di akhir cerita…sipenulis cerita tersebut memberika pesan kepada pembacanya..termasuk saya dan sekarang anda…begini nasehatnya..”Sayangi semua yang kalian punya…bukan dengan mengekangnya..tetap biarkan dia menjadi dirinya..karena ketika dia yang kau sayangi nyaman untuk kau sayangi,dia tidak akan pernah membuat kau kehilangannya”
Saya sempat berpikir bagaimana bisa…saya membiarkan seseorang yang saya sayangi bebas berkeliaran…ternyata dari pemikiran saya ini saya baru tersadar…ternyata ini lho makna sayang itu…
Masih bingung…? Sudahlah..tidak perlu dipikirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s